Bali dalam kondisi aman dan kondisi Gunung Agung sudah status siaga, ayoo liburan ke Bali, team Surga Bali melayani sepenuh hati dengan layanan sewa mobil, voucher atraksi wisata, rental motor dan aktivitas petualangan harga murah..

Promo Bali Sewa Mobil Murah Bulan Ini

Daftar Sewa Mobil Charter Promo
Suzuki Estilo hanya Rp.375.000 per hari durasi 10 jam
Suzuki Splash hanya Rp.400.000 per hari durasi 10 jam
Toyota Avanza / Suzuki APV hanya Rp.400.000 per hari durasi 10 jam
Toyota All New Innova Rp.600.000 per hari durasi 10 jam
Isuzu ELF Microbus Pariwisata 12 seats hanya Rp.600.000 per hari durasi 10 jam
Harga sudah termasuk sopir dan BBM. Harga berlaku untuk area start dan finish point Denpasar Airport, Kuta, Sanur, Legian, Seminyak, Nusa Dua, Jimbaran, Denpasar.
Telaga Waja Rafting hanya Rp.325.000 per orang WNI sudah termasuk makan,antar jemput, asuransi kecelakaan diri, minimum pemesanan 2 orang.
Tiket Masuk Waterbom Kuta harga mulai Rp.235.000 per orang, minimum 2 orang
Tiket Bounty Cruise wisata cruise ke Nusa Lembongan hanya Rp.650.000 per orang
Info lebih lanjut telp 085237031956, whatsapp: 62 8573 8573 210 Fax: 0361 726135

Ngayah (Gotong Royong) Adat Bali, Bisakah Fleksible?

17 Januari 2008

NGAYAH (ADAT)

Apa difinisi ngayah itu? Seorang tokoh adat menyebutkan,ngayah adalah kerja bakti berbagai keperluan, apakah urusan ritual keagamaan ataupun masalah sosial kemasyarakatan.Kalau sudah disebut sebagai ngayah maka siapapun yang terlibat tidak mendapatkan upah. Ini kerja gratis. Namun, tidak demikian untuk krama banjar adat. Menjadi krama banjar adat, kalau tidak ikut ngayah akan kena sangsi berupa denda. Besarnya denda tidak seragam di masing-masing banjar adat. Juga tergantung jenis ngayah itu, apakah memperbaiki lingkungan,bekerja menyiapkan sarana upacara, menjenguk dan mengantar kekuburan saat ada kematian dan sebagainya.

Yang lebih unik lagi, warga adat bukannya takut membayar denda,tetapi takut akan “berapakali kena denda”. Jadi bukan tergantung nilai uangnya , tergantung berapa kali absen ngayah. Jika dianggap keterlaluan absennya,meskipundenda semua di bayar, warga adat itu bisa di kucilkan dari krama banjar. Pengucilan dari tingkat yang paling sadis adalah kena kasepekang. Kalau itu terjadi, berbahaya sekali, jika suatu saat ada keluarganya yang meninggal dunia tak bisa dikuburkan, setidaknya dipersulit.Karena kuburan yang ada didesa bukan “kuburan umum”atau “kuburan milik agama”, sebagaimana di luar Bali. Kuburan di Bali adalah milik adat. Beratnya beban adat ini sangat dirasakan oleh warga yang merantau. Bayangkanlah, kalau ngayah itu seringkali dilakukan,warga adat yang mencari nafkah dirantau akan kelabakan. Dia harus memilih, mau pulang ke desanya untuk ngayah atau absent ngayah. Absen ngayah bisa kena denda atau bisa kena sanksi sosial, rajin ngayah bisa kena dampratdi tempat kerja karena berarti bolos.

Ketika krama Bali masihhidup dalambudaya agraris,urusan adat seperti ini tak jadi masalah, karena pekerjaan sama yaitu petani. Piodalan di pura atau ngayah memperbaiki lingkungan selalu dikaitkan dengan musim tanam. Jadi ada waktulonggar untuk ngayah. Ketika dunia modern datang, budaya agraris mulai dig anti budaya industri, aturan adat jadi masalah. Bagaimana biasa seorang manajer hotel harus ngayah ke pura membuat klakat, sementara dia harus mengelar rapat setiap saat? Bagaimana bisa eksekutif di bank harus pulang ke desa adat untuk ngayah mengantar warga yang meninggal dunia? Ini salah satu sebab para eksekutif Bali kalah bersaing merebut jabatan menengah ke atas. Untunglah, banyak desa yang sudah punya aturan adat yang bagus. Persoalan ngayah ini disikapi dengan cara-cara modern. Prinsipnya adalah budaya agraris sudah ditinggalkan maka aturan adat yang mengacu kepada budaya agraris harus pula ditinggalkan. Banyak cara untukmenyikapi hal ini.

Di Denpasar, beberapa banjar adat menerapkan sistimngayah dengan menyiasati waktu. Kalau ada warga yang meninggal, misalnya, warga adat ngayah mulai pukul lima pagi untuk membuat perlengkapan upacara. Sekitar pukul tujuh semuanya sudah selesai. Jadiwarga adat bisa bekerja di kantoran. Adapun mengantar ke kuburan, tidak dikenakan absensi, jadi bebas mau mengantar atau tidak. Ini tidak mengurangi sisi kekerabatan, karena kalau tidak ikut mengantar,malamnya datang ke rumah duka menyampaikan ucapan belasungkawa sambil membawa “bingkisan duka”.

Di beberapa desa, hal ini juga sudah dilakukan, bahkan mulai ada kemajuan dalam hal menyiapkan sarana upacara keagamaan. Dulu warga ngayah membuat klakat, tusuk sate dll. Ibu-ibu juga begitu, ngayah ke pura untuk membuat banten (sesajen),sekarang disiasati dengan masing-masing warga dibebani alat-alat upacara. Misalnya, seseorang harusmembawa 100 tusuk sate, orang lain membawa 50 klakat. Barang itu harus diserahkan tepat waktu, tak penting bagaimana mereka mendapatkannya. Apakah membuat sendiri malam-malam di rumah, atau memesan kepada orang lain, atau membeli.bukankah alat-alat seperti ini sudah banyak yang menjualnya? Lihatlah di sepanjang Desa Kapal, perlengkapan upacara apapun ada yang menjual.

Demikian pula dengan banten. Serati pura sudah menetapkan jenis banten apasaja yang digunakan, lalu dibagi kepada warga adat. Seorang ibu, misalnya, kebagian lima buah daksina, lainnya kebagian sesayut, lainnya lagi kebagian pengulapan dan sebagainya. Untuk banten besar bisa dikerjakan gotong royong berdasarkan letak rumah yang berdekatan. Pada satu saat banten ini diserahkan. Jadi, tidak perlu ngayah setiap hari,cukup sekali pada saat metanding banten. Jika seorang ibu sibuk bekerja di kantoran dan tak sempat membuat daksina, misalnya, bukankah barang seperti ini bisa di beli di pasar? Inilah penerapan adat dalam budaya modern.

Ada sebuah desa adat yang sama sekali warganya tak pernah ngayah untuk membersihkan pura, tetapi puranya malahlebih bersih dari sebelumnya. Bagaimana menyiasati? Warga urunan untuk biaya pemeliharaan pura. Lalu dicari warga setempat yang bisa bertanggung jawab atas kebersihan pura itu dengan mendapatkan gaji bulanan. Cara modern ini ternyata membuat pura tetap bersih sepanjang saat dan wargapun tidak ngayah. Lagipula ada anggapan,ngayah untuk membersihkan pura terlalu mubazir karena pekerjaan hanya sekejap, ngobrolnya yang lama. Pada hal ngayah itu mengorbankan waktu produktif untuk bekerja. Bukan saja yang bekerja di kantoran, juga warga yang bekerja sebagai pedagang, tukang ojek dan sebagainya. Terobosan seperti ini harus selalu digulirkan tidak usah takut kekerabatan sosial jadi kendor karena ada cara lain untuk tetap menyamabraya (persahabatan). Jika kita terus menerapkan aturan ngayah adatseperti mas lalu, lambat laun Bali ii akan dikuasi oleh para pendatang,yang sama sekali tak terkait oleh ngayah adat.


Putu Setia

Mobil Sewa Murah

Tempat Tamasya Menarik Di Bali

Kenapa Anda memilih Surga Bali.Biz sebagai partner liburan di Bali?

Ya, inilah pertanyaan yang mesti ada di hati Anda sebelum memilih untuk menikmati layanan sewa mobil kami. Berbagai kelebihan yang dapat kami tawarkan dibandingkan dengan jasa sewa mobil yang banyak bertebaran di Bali:

  • Telah memiliki pengalaman dan dedikasi di dunia pariwisata Bali.
  • Harga kompetitif dan lebih murah dengan pelayanan yang memuaskan
  • Team work Bali tour guide, driver pariwisata yang telah berpengalaman.
  • Ketersediaan jenis mobil wisata yang bervariatif dari mobil stardard rent car sampai limousine.
  • Anda pasti mendapatkan senyum karena kami melayani customer dengan hati.
  • Lokasi sewa mobil kami dekat obyek wisata sepeti airport, Kuta, Sanur, Legian, Seminyak, Denpasar dapat ditempuh dalam waktu singkat.
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Surga Bali.Biz
Hotline Tsel 0852 3703 1956
Handphone Indosat: 08573 8573 210
Fax: 0361 726135
Alamat Jl.Pesonaku No.5, Denpasar Selatan, Denpasar, Bali
Surga Bali.Biz dioperasikan oleh Surga Bali Tour & Sewa Mobil