Bali dalam kondisi aman dan kondisi Gunung Agung sudah status siaga, ayoo liburan ke Bali, team Surga Bali melayani sepenuh hati dengan layanan sewa mobil, voucher atraksi wisata, rental motor dan aktivitas petualangan harga murah..

Promo Bali Sewa Mobil Murah Bulan Ini

Daftar Sewa Mobil Charter Promo
Suzuki Estilo hanya Rp.375.000 per hari durasi 10 jam
Suzuki Splash hanya Rp.400.000 per hari durasi 10 jam
Toyota Avanza / Suzuki APV hanya Rp.400.000 per hari durasi 10 jam
Toyota All New Innova Rp.600.000 per hari durasi 10 jam
Isuzu ELF Microbus Pariwisata 12 seats hanya Rp.600.000 per hari durasi 10 jam
Harga sudah termasuk sopir dan BBM. Harga berlaku untuk area start dan finish point Denpasar Airport, Kuta, Sanur, Legian, Seminyak, Nusa Dua, Jimbaran, Denpasar.
Telaga Waja Rafting hanya Rp.325.000 per orang WNI sudah termasuk makan,antar jemput, asuransi kecelakaan diri, minimum pemesanan 2 orang.
Tiket Masuk Waterbom Kuta harga mulai Rp.235.000 per orang, minimum 2 orang
Tiket Bounty Cruise wisata cruise ke Nusa Lembongan hanya Rp.650.000 per orang
Info lebih lanjut telp 085237031956, whatsapp: 62 8573 8573 210 Fax: 0361 726135

Tenaga Kerja Bali Dipasung Oleh Kegiatan Adat Yang Ketat

15 Januari 2008

Benarkah manusia Bali (Hindu-red) begitu sulit memenangkan persaingan di dunia kerja lantaran belenggu adat yang begitu kuat mengungkung? Pertanyaan itulah yang acapkali mengusik ketika menyaksikan keterpinggiran dan ketidakberdayaan manusia Bali dalam memperebutkan posisi strategis di tempatnya bekerja. Di sektor pariwisata, misalnya, posisi top management hotel-hotel berbintang di Bali cenderung “dikuasai” kaum ekspatriat maupun tenaga kerja luar Bali. Keterpinggiran serupa juga dinyakini terjadi di sektor-sektor lainnya.

Ketika kekalahan demi kekalahan dalam persaingan itu terus berlanjut, maka telunjuk pun ditundingkan kearah institusi adat sebagai “kambing hitam” pemicu kondisi itu. Konon tenaga kerja Bali kurang professional lantaran kesulitan melepaskan diri dari belenggu adat yang begitu kuat mencengkeram. Mereka tidak bisa focus bekerja karena konsentrasinya harus terbagi dengan padatnya aktivitas adat. Alhasil, “stempel” tenaga kerja Bali tidak disiplin, kurang professional dan etos kerja rendah pun melekat kuat yang selanjutnya mengerdilkan posisi tawar mereka di dunia kerja. Peneliti dan konsultan adat Bali Wayan P.Windia dan pemerhati masalah hukum dan politik, agama dan sosial budaya Bali mengaku sangat tidak sepakat jika adat istiadat dan budaya Bali dijadikan kambing hitam keterpinggiran manusia Bali di dunia kerja. Kendati begitu, dia menyadari bahwa keterikatan manusia Bali dengan sistim adatnya memang sangat kuat. Namun, katanya, kondisi itu tetap bisa disiasati jika manusia Bali bisa me-manage diri dan waktunya dengan baik. Kapan saatnya larut dalam dunia kerja yang menuntut disiplin dan profesionalisme tinggi dan kapan larut dalam aktivitas adat. “Sebenarnya semua itu masih bisa disiasati,” ujar Windia yang dibenarkan Swastha.

Kendati begitu, tidak menampik bahwa orang Bali dewasa ini berada dalam situasi transisi. Ditegaskan, adat Bali beserta segala aktivitas yang terkait dengan adat dan agama di Bali itu merupakan bagian dari budaya agraris. Sementara dalam realita kekinian, Bali saat ini tidak lagi sepenuhnya agraris. Sebagian aktivitas kehidupan sudah mengarah kepada industri dan jasa.

Masing-masing aktivitas ini punya budaya sendiri dengan ragam aturannya sendiri yang satu dengan yang lainnya berbeda. Masyarakat dengan aktivitas industri, maka budaya yang diusungnya adalah budaya industri. Semetara masyarakat agraris, maka budayanya juga agraris. Begitu halnya pula dengan masyarakat yang menggantungkan sektor penghidupannya di sektor jasa.

Kondisi seperti inilah yang terjadi sekarang di masyarakat Bali. Masyarakat Bali tidak lagi bersifat homogen atau masyarakat tidak sepenuhnya lagi murni mengusung budaya agraris karena realita sebagian dari mereka sudah memilih sektor industri dan jasa sebagai sumber penghidupan. Sedangkan di pihak lain, adat yang dipegang teguh di Bali sangat kental dengan nuansa agraris kendati aktivitas masyarakatnya tidak lagi sepenuhnya di bidang agraris. Tidak sedikit dari masyarakat Bali berusaha di sektor industri dan jasa dimana mereka wajib tunduk pula terhadap aturan maupun budaya kerja masyarakat industri dan jasa.

Menyikapi realita masyarakat Bali yang bergerak kea rah heterogen ini, sikap arif bijaksana sangat diperlukan. Masyarakat yang keseharian hidup dari sektor agraris mau tidak mau harus ikut menyelaraskan aturan kehidupan termasuk adatnya dengan budaya industri dan jasa. Kearifan serupa juga wajib dikembangkan oleh masyarakat Bali non-agraris. Jangan belum apa-apa sudah mengklaim adat Bali membelenggu profesionalisme. Pasti selalu ada jalan keluar sehingga masyarakat Bali yang bergerak di sektor industri dan jasa tetap punya peluang meraih prestasi kerja setinggi-tingginya tanpa harus mentelantarkan kewajibannya selaku masyarakat adat.

Pelaksanaan adat yang terkesan ketat di Bali tidak boleh dijadikan kambing hitam kekalahan orang Bali dalam memenangkan persaingan dunia kerja, khususnya dalam sektor industri dan jasa. Sebab realitanya tidak sedikit tokoh Bali yang terbukti tetap bisa eksis di dunia kerja tanpa harus melepaskan diri dari komunitas adatnya. Mereka masih tetap bisa meraih prestasi optimal di dunia kerja, namun di sisi lain secara instensif mampu melibatkan diri dalam aktivitas-aktivitas adat.

Fenomeda keterpinggiran manusia Bali dalam dunia kerja tidak sepenuhnya bersumber dari ketanya belenggu adat yang mengikat. Selama ini ada kesan orang Bali terjebak pada mentalitas priyayi, pilih-pilih pekerjaan dan mengembangkan pola hidup hedonis (mungkin ada erat kaitannya karena orang Bali merupakan eksodus dari kaum priyayi kerajaan Majapahit).Maunya serba enak, ingin jadi pegawa negeri (masuk kerja baca koran, pulang kerja siang hari), pegawa BUMN dan pekerjaan lainnya yang enak-enak.

Ketidakmandirian orang Bali disebabkan oleh pola kerja gotong-royong (ngayah) yang akhirnya melahirkan sebuah stigma miring bahwa tenaga kerja Bali tidak professional sehingga kalah bersaing. Sifat gotong-royong (ngayah) merupakan nilai-nilai sosial-religius yang mesti dilestarikan dan dikembangkan. Kalau pun orang Bali terutama generasi mudanya akhirnya kalah bersaing, itu bukan karena kita melaksanakan sistem adat tersebut. Tetapi karena orang Bali sering malas, tidak mau berwiraswasta dan mengembangkan mental priyayi. Mengkambing hitamkan adat sebagai penghambat prestasi kerja hanyalah trik-trik orang malas semata. Buktinya banyak sekali orang Bali yang berwiraswasta, punya aktivitas kerja yang padat tetapi masih bisa melaksanakan aktivitas adatnya dengan baik.


W.Sumantika

Mobil Sewa Murah

Tempat Tamasya Menarik Di Bali

Kenapa Anda memilih Surga Bali.Biz sebagai partner liburan di Bali?

Ya, inilah pertanyaan yang mesti ada di hati Anda sebelum memilih untuk menikmati layanan sewa mobil kami. Berbagai kelebihan yang dapat kami tawarkan dibandingkan dengan jasa sewa mobil yang banyak bertebaran di Bali:

  • Telah memiliki pengalaman dan dedikasi di dunia pariwisata Bali.
  • Harga kompetitif dan lebih murah dengan pelayanan yang memuaskan
  • Team work Bali tour guide, driver pariwisata yang telah berpengalaman.
  • Ketersediaan jenis mobil wisata yang bervariatif dari mobil stardard rent car sampai limousine.
  • Anda pasti mendapatkan senyum karena kami melayani customer dengan hati.
  • Lokasi sewa mobil kami dekat obyek wisata sepeti airport, Kuta, Sanur, Legian, Seminyak, Denpasar dapat ditempuh dalam waktu singkat.
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Surga Bali.Biz
Hotline Tsel 0852 3703 1956
Handphone Indosat: 08573 8573 210
Fax: 0361 726135
Alamat Jl.Pesonaku No.5, Denpasar Selatan, Denpasar, Bali
Surga Bali.Biz dioperasikan oleh Surga Bali Tour & Sewa Mobil