Monkey Forest Ubud Daya Tarik Wisata Penuh Pesona

Monkey Forest alias hutan kera di Ubud merupakan daya tarik wisata yang komplit karena memiliki kombinasi pesona keindahan, kemagisan dan kesucian, keilmuan dan kemasyarakatan. Inilah satu-satunya daya tarik wisata di Ubud yang gampang dijangkau dan memiliki tempat parkir yang luas.

Wisatawan yang berkunjung ke Monkey Forest tidak hanya bisa melihat kera-kera yang jenaka dan sesekali geriknya mendebarkan, tetapi juga bisa merasakan keindahan dan kesejukan hutan hijau yang menjadi habitat monyet.

Di kawasan Monkey Forest terdapat beberapa pura, termasuk Pura Dalem Desa Padang tegal, selaku pemilik Monkey Forest. Seperti halnya di objek wisata kera lainnya, monyet di Monkey Forest pun menjadi bagian integral dan kemagisan dan kesucian.

Objek Riset

Monkey Forest Ubud sejak lama menjadi objek riset peneliti dalam dan luar negeri yang berkolaborasi dengan sarjana-sarjana lokal termasuk dari Universitas Udayana. Penelitian tentang Monkey Forest tidak hanya untuk mengembangkan ilmu tetapi juga membantu menjaga kelestarian dan kesehatan monyet-monyet di sana.

Namun, yang tidak kalah pentingnya, adalah daya tarik wisata ini dikelola masyarakat, lewat yayasan yang hasilnya bisa dijadikan sumber pendapatan desa untuk kegiatan sosial dan keagamaan.

Jika dilihat dari sistem pengelolaannya, Monkey Forest Ubud tampak benan-benar maju, karena memanfaatkan sistem jaringan internet untuk menyampaikan informasi dan promosi.

Bahkan, informasi kegiatan ritual Mupuk Pedagingan and Pedudusan Agung di Pura Dalem Agung Desa Pakraman Padangtegal pun dipasang di situs internet Monkey Forest. Puncak ritual ini adalah 9 Agustus, tetapi rangkaian kegiatannya sudah akan dimulai awal Juli.

Pengunjung Monkey Forest tidak hanya akan melihat kera dan menikmati atmosfir hutan hijau tetapi juga sesekali aktivitas ritual. Selama ritual akan dipentaskan juga seni pertunjukan seperti tarian dan wayang.

Nama Jalan

Yang juga membuat Monkey Forest ini komplit karena jalan menuju ke lokasi itu diberi nama Monkey Forest Road. Di salah satu jalan utama di Ubud ini berjejer restoran, toko suvernir dan hotel atau vila. Artinya, wisatawan yang menginap di sana mau tidak mau akan tahu keberadaan Monkey Forest dan karena dekat pengunjung tidak akan tidak mengunjunginya karena gampang dijangkau dengan berjalan kaki dan penginapan mereka.

Musim liburan pertengahan tahun ini, objek wisata ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, akan ramai dikunjungi wisatawan. Ada turis domestik, banyak juga wisatawan mancanegara seperti dan Rusia, India, Jerman, Belanda, Australia dan AS.

Kunjungan mungkin bisa mencapai sekurang-kurangnya 200-500 per hari. Harga tiket masuk Rp 15.000 untuk dewasa dan Rp 7.500 untuk anak-anak. Karena anak-anak agak takut pada kera, tentu saja jumlah pengunjung Monkey Forest lebih dominan orang dewasa. Anak-anak yang ikut biasanya berdebar-debar atau berani-berani takut.

Di dalam hutan kera itu, wisatawan bisa menyaksikan perilaku monyet yang liar, lucu atau bergelantungan di pepohonan yang tinggi. Wisatawan yang membawa pisang bisa menyodorkannya kepada monyet-monyet yang lincah menyabet untuk gesit menjauh. Memberikan pisang memang diperbolehkan, tetapi bercanda dan mengelus monyet tidak dibenarkan.

Hati-hati Bercanda

Umumnya monyet di sini jinak, tetapi kalau salah elus atau keliru bercanda bisa saja berubah perangainya. Kalau monyet marah dan menggaruk atau menggigit, repot akibatnya.

Kejadoan seperti demikian memang pernah terjadi, ketika seorang turis Rusia yang mencoba menggoda monyet, akhirnya dia digaruk sampai luka, lalu dijahit di depan.

Data yang ada menunjukkan populasi Monkey Forest meningkat terus dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 1986 terdapat 69 ekor, tahun 2006 bertambah menjadi 200 ekor, tahun 2007 ada 304 ekor dan tahun 2009 diperkirakan 350 ekor.

Peningkatan populasi ini terjadi antara lain karena adanya pemeliharaan dan riset -riset untuk mengondisikan agar kera-kera di sana bisa hidup dan berbiak dalam kondisi yang baik. Wilayah Monkey Forest tidak begitu luas tetapi arena itu konon terbagi empat yang dihuni koloni dan empat kelompok. Tiap kelompok, konon, akan tetap kumpul di wilayahnya sendiri alias tidak melintas batas.

Era Digital

Dalam era digital sekarang ini, hampir tiap pengunjung Monkey Forest membawa kamera dan kamera yang melekat di hand-phone sampai digital besar profesional dan handycam sampai kamera TV profesional. Pengunjung itu tak bosan-bosannya memotret para kera yang bercanda. Shooting atas monyet itu bisa meluncur memasuki dunia maya, baik lewat flicker dari blog dan ruang-ruang internet lainnya. Dari sini, Monkey Forest Ubud kian mendapat promosi, mengundang calon pengunjung Untuk datang.

Kunjungan wisatawan ke tempat ini menjadi sumber pendapatan bagi yayasan pengelola objek wisata itu. Selain untuk membayar pegawai, dana itu juga untuk melestarikan hutan dan kera-kera baik lewat penjagaan dan riset-riset. Dana juga digunakan untuk membiayai ritual-ritual.

Monkey Forest Ubud bisa dipuji sebagai model pengelolaan objek wisata yang berkelanjutan dan pro-rakyat. Pengunjung terus datang menambah pendapatan buat yayasan desa yang mengelolanya, koloni kera kian bertambah. Lestarilah Monkey Forest.

36 comments to Monkey Forest Ubud Daya Tarik Wisata Penuh Pesona

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

A sample text widget

Surga Bali Tour and Car Rental, melayani sewa mobil di Bali, jenis mobil sewa yang variatif dari mobil standard seperti Suzuki Karimun, Suzuki Karimun Estilo, Suzuki Splash, Toyota Avanza New, Toyota Innova, maupun mobil mewah seperti Toyota Alphard, Toyota Fortuner. Kami menyediakan mobil bus seperti micro bus Isuzu ELF dan Bus 25 seats dengan harga sewa murah, driver pariwisata yang berpengalaman. Untuk informasi lebih lanjut hubungi 0361 9191543, Fax 0361 726135.