Gedong Kertya Singaraja Bali

Gedong Kertya, bangunan bersejarah yang menyimpan koleksi lontar dan buku tua di Kota Singaraja, kondisinya sungguh memprihatinkan. Dari tahun ke tahun, gedung itu tidak mendapat perawatan maksimal padahal, gedung itu merupakan gedung penyimpan lontar satu-satunya di dunia yang menjadi aset penting milik Buleleng.

Sejak tahun 2007,  Gedong Kertya ditetapkan sebagai obyek wisata atau daerah tujuan wisata  (DTW). Dengan penetapan sebagai DTW, gedung itu diharapkan akan mendapatkan kunjungan wisatawan yang lebih banyak. Namun yang terjadi justru sebaliknya, kunjungan wisatawan ke gedung itu makin sepi saja. Yang datang ke Gedong Kertya selama im masih tetap peneliti, mahasiswa, atau siswa untuk kepentingan studi.

Salah satu penyebab mimimnya kunjungan wisatawan ke gedung itu, tentu saja karena gedung tua itu tidak pernah mendapatkan perawatan secara maksimal.  Lontar dan buku-buku bersejarah hancur dimakan rayap. Buku itu sangat sulit dibaca karena hurufnya sudah kabur dan kertasnya sudah compang-camping.  Kendati kondisinya rusak, buku itu masih tersimpan di dalam rak buku.  Sedihnya lagi,  gedung itu tak punya dana untuk melakukan perawatan. Jangankan uang untuk membeli obat anti rayap yang ampuh, uang untuk sekadar membeli kapur barus pun tidakada.  Di sisi lain, satu-satunya pendingan ruangan (AC) tidak berfungsi sejak bertahun-tahun lalu.  Padahal  AC sangat penting untuk menjaga suhu ruangan agar koleksi buku dan lontar tetap terjaga.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Gedong Kertya Singaraja, Ketut Suharsana, mengakui tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi Gedong Kertya yang memprihatir kan itu.  Pemeliharaan tidak dilakukan secara maksimal akibat alokasi dana pemeliharaan distop mulai tahun 2007, justru ketika gedung itu ditetapkan sebagai DTW. Sebelumnya, pemerintah daerah mengalokasikan dana pemeliharaan Rp 76 juta setiap tahun.  Namun sejak dana itu dihentikan, pemeliharaan koleksi tidak dilakukan dengan maksimal. “Jangankan memelihara lontar, biaya beli kapur barus untuk mencegah rayap, kami kesulitan dan sering kami kumpulkan dana urunan dengan staf di sini,” katanya.
Menurut Suharsana, dengan ditetapkannya Gedong Kertya sebagai DTW, seharusnya gedung peninggalan zaman Belanda itu mendapat perhatian yang lebih besar. Sebab, untuk menjaring kunjungan wisatawan lebih banyak, gedung serta koleksi lontar di dalamnya harus dalam kondisi yang baik. “Kalau menurut saya, lebih baik Gedong Kertya tetap pada visinya sebagai perpustakaan penunjang pendidikan dan pusat informasi adat dan budaya,” katanya. (dikutip dari Bali Post tgl 12 Maret 2011)

20 comments to Gedong Kertya Singaraja Bali

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  

  

  

A sample text widget

Surga Bali Tour and Car Rental, melayani sewa mobil di Bali, jenis mobil sewa yang variatif dari mobil standard seperti Suzuki Karimun, Suzuki Karimun Estilo, Suzuki Splash, Toyota Avanza New, Toyota Innova, maupun mobil mewah seperti Toyota Alphard, Toyota Fortuner. Kami menyediakan mobil bus seperti micro bus Isuzu ELF dan Bus 25 seats dengan harga sewa murah, driver pariwisata yang berpengalaman. Untuk informasi lebih lanjut hubungi 0361 9191543, Fax 0361 726135.